Call Center : 0411-3623237
23
FEB
2013

Kurikulum 2013 Penyempurnaan Kurikulum Sebelumnya

Kurikulum 2013 2Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Prof Dr Ir Musliar Kasim, MS dengan tegas menepis anggapan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang baru. Menurutnya, kurikulum yang akan diterapkan mulai tahun ajaran 2013/2014 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Hal ini diungkapkannya dihadapan peserta sosialisasi kurikulum 2013, yang dilaksanakan di Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, Jumat, 8 Februari 2013.

Banyaknya pihak yang selama ini menganggap bahwa penerapn kurikulum 2013 ini terkesan terburu-buru dan tidak subtansi. Belum lagi anggapan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sepenuhnya belum dikuasai guru-guru,tiba-tiba langsung diubah lagi. Musliar, menjelaskan jika kurikulum baru ini sudah disusun beberapa tahun lalu dengan melihat berbagai kekurangan yang ada pada kurikulum sebelumnya, hanya saja baru diekspos jelang penerapannya. “Implementasi penerapan kurikulum ini hanya akan sistem pendidikan dan pengajaran di kelas, kebanyakan yang memprotes kurikulum 2013 adalah mereka yang belum memahami sepenuhnya, olehnya itu kami mengadakan sosialisasi ke sejumlah daerah, “katanya.

Penerapan kurikulum ini didasarkan pada berbagai tinjauan diantaranya; adanya tantangan masa depan, globalisasi, masalah lingkungan hidup, kompetensi masa depan. ” Disamping itu, sejumlah materi yang diujikan di ujian nasional belum pernah diajarkan karena tidak ada di kurikulum, sistem pengajaran juga dianggap kurang baik, ” paparnya.

Kurikulum sebelumnya juga dianggap kurang mampu menigkatkan  kemampuan berkomunikasi siswa, kemampuan siswa dalam berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yg bertanggungjawab. ” Akibatnya siswa kurang  memiliki minat yang luas dalam kehidupan, tidak memiliki kesiapapn untuk bekerja,tidak memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, ” kata Musliar.

Disamping itu, materi kurikulum saat ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognetif, beban belajar siswa terlalu berat dan kurang bermuatan karakter. Akibatnya timbul berbagai fenomena negatif dikalangan siswa saat ini seperti seringnya terjadi perkelahian pelajar, narkoba yang sudah berkembang pesat dikalangan remaja, plagiarisme dan kecurangan dalam ujian (menyontek). ” Atas dasar itu, maka tema Kurikulum 2013 yakni menghasilkan insan Indonesia yg produktif, kreatif, inovatif dan afektiv melalui sikap dan keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi, ” ujar mantan Rektor Universitas Andalas

Penjurusan IPA-IPS dihapus
Perubahan signifikan pada kurikulum 2013 ini diantaranya penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, materi mata pelajaran yang diajarkan setiap pekannya bergantung pada tema yang sudah ditetapkan. ” Sehingga murid SD cukup hanya membawa dua buku saja, tidak perlu lagi bawa ransel berisi banyak buku, ” ucap alumnus Pascasarjana University of The Philippines, Los Banos.

Di tingat SMP, mata pelajaran IPA dan IPS juga dihapuskan, namun bukan berati tidak diajarkan, hanya saja materinya dititipkan di mata pelajaran yang lain.
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) dihapuskan juga. ” Bagi guru-guru yang selama ini mengajarkan TIK bisa beralih mengajarkan mata pelajaran lain dan apabila sudah memiliki sertifikat pendidik untuk TIK, kami akan gantikan sertifikatnya sesuai mata pelajaran yang akan diajarkan nantinya, ” terangnya.

Di tingkat SMA sendiri penerapan penjurusan juga dihapuskan, jadi tidak ada lagi jursan IPA, IPS maupun Bahasa. Hal ini untuk menghindari kesenjangan yang terjadi dikalangan siswa. ” Siswa boleh memilih mata pelajaran yang diinginkan, tidak hanya berdasar pada jurusan yang dipilih seperti sebelumnya, makanya kita hapuskan, ” terangnya.

Pada kurikulum 2013 ini proses belajar mengajar dimulai dari pengamatan, menanyakan, mengolah, menalar, menyajikan materi, menyimpulkan materi dan terakhir siswa diharapkan mampu menciptakan pemikiran sendiri terkain materi yang dibahas. Pembelajaran juga tidak hanya berlangsung di ruang kelas saja tetapi bisa di lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar. Para guru juga bukan lagi satu-satunya sumber belajar melainkan para murid atau siswa bisa belajar dari lingkungan ataupun pemanfaatan internet. ” Elemen penilaian juga tidak hanya dari hasil tugas atau ujian, tetapi lebih pada penilain berbasis kompetensi, ” bebernya

Ekstrakulikuler Pramuka, lanjutnya merupakan ekstrakuliker wajib bagi semua siswa. ” Pengwajiban ini, didasarkan bahwa pramuka merupakan sarana pembelajaran pembentukan karakter dan penerapan nilai nilai positif, ” tuturnya.

Sumber : UNM

Leave a Reply

*


× 3 = fifteen

captcha *